MISTERI MANDI DI ETUK SURAJAYA
Desa Surajaya adalah salah satu desa yang masuk dalam wilayah kecamatan Pemalang paling selatan yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Bantarbolang, nama desa ini kemudian terkenal karena cerita Pangeran Purbaya dan Pangeran Selingsingan.
Surajaya merupakan simbol yang memiliki makna penting dan besejarah yaitu fenomena pertarungan anatar tokoh kala itu, Menurut bahasa nama Surajaya terdiri dari dua suku kata Sura dan Jaya, Sura artinya berani sedangkan Jaya artinya kuat, Surajaya artinya sama sam berani dan sama kuatnya.
Menurut Kepala Desa Surajaya, Wasno mengatakan bahwa desa Surajaya memiliki banyak potensi diantaranya potensi wisata alam, budaya dan sejarah. terkait budaya , Wasno menjelaskan bahwa kepercayaan masyarakat di Surajaya yang masih ada sampai sekarang yaitu ritual mandi malam jum'at di mata air yang dekat dengan makam Pangeran Purbaya. Dengan memanfaatkan air tersebut untuk mandi dan keperluan lainnya maka mereka meyakini akan bertambah karomahnya.
Menurut juru
kunci makam Pangeran Purbaya, MbahTiswo,
Masyarakat mengenal atau mulai percaya mandi dimata air Makam Purbaya sejak tahun
1960, dulu mata air tersebut lebih dikenal oleh masyarakat setempat dengan nama
ETUK, bahkan masyarakat surajaya dan sekitarnya percaya akan khasiat dari
mandi atau mengambil dimata air pada tengah malam hari bisa menghilangkan penyakit
atau membuang sial.
Masyarakat
juga percaya bahwa jaman dahulu di mata air tersebut merupakan petilasan Empu Sunan
Pete , sehingga masyarakat yakin tentang khasiat dari air tersebut bisa menjadi
air yang dikeramatkan masyarakat surajaya dan sekitarnya,mata air tersebut digunakan
juga untuk keperluan sehari-hari oleh warga sekitar.
Kepercayaan
masyarakat surajaya dan sekitarnya adalah untuk membuang sial, danorang-orang
yang datang kesini selalu membawa botol kosong, walaupun bukan jumat kliwon kadang
ada saja
pengunjung
yang datang untuk mengambil air,
biasanya air tersebut digunakan untuk dijadikan pengantar doa dimakam pangeran Purbaya,
kemudian sebagian sisanya air tersebut dibawa pulang untuk dipergunakan untuk keperluan
lainnya.
Tokoh Budaya Desa Surajaya, Sapardo, bahwa riwayat mata air di Makam Surajaya
berawal dari cerita rakyat yang mengisahkan tentang Penyesalan dua tokoh yaitu Pangeran
Purbaya dan Ki Ageng Paselingsingan hingga menimbulkan mata air secara mistis muncul
di Candia tau Makam Pangeran Purbaya tau makam Surajaya, saat itu belum dikelolakan
ya mengalirsaja, saat itu hanya digunakan
untuk wudhu bagi pengunjung yang akan kemakam atau candi.
Telah
diyakini oleh masyarakat dengan mandi di mata air ini apa yang menjadi
keinginan mereka akan tercapai, baik untuk dagang , penglarisan dan kesehatan.. Pengunjung
paling ramai pada Malam jum’at kliwon dan malam selasa, selain dari masyarakat
local, luar daerah pemalang juga banyak.
Terkait
peningkatan pendapatan atau ekonomi masyarakat desa Surajaya, ritual tersebut
berdampak positif, walaupun tidak dikenakan tarif masuk, ada kotak amal yang
disediakan untuk pengunjung yang datang dan memberikan secara sukarela,
walaupun sedikit tapi hal ini rutin, selain itu banyaknya pedagang yang
berjualan di sekitar makam, akan menambah pendapatan masyarakat desa Surajaya.
Harapan Sapardo sebagai pengelola Wippas agar semua pihak berpartisipasi, baik
pengunjung, pemda, dan masyarakat , dengan tujuan untuk memajukan pariwisata
khususnya di Desa Surajaya.
Budaya
Lokal harus kita lestarikan, karena dengan melestarikan budaya yang merupakan
kearifan local menjadi manifestasi kecintaan kita akan tanah air, yaitu
Indonesia tercinta, semua pihak bekerja sama dan bergotongroyong memajukan desa
kita masing – masing , jangan lupa Segala Rejeki,kesehatan semua ditentukan atas
kehendak Allah, manusia hanya berusaha dan berdoa.
Penulis
: Tarto




Komentar
Posting Komentar